Selasa, 02 April 2013

Faktor-Faktor Pembatas Budidaya Ikan Kerapu di Tambak


Bab I
Pendahuluan

Faktor-Faktor Pembatas Budidaya Ikan Kerapu di Tambak
1. Kualitas Tanah
Tanah tambak umumnya merupakan tanah endapan (alluvial), yang kesuburannya sangat ditentukan oleh kualitas mineral yang diendapkan. Tanah juga merupakan komponen utama dalam pembuatan petakan tambak, pematang, saluran air dan pintu air serta mempunyai peranan penting dalam menentukankualitas air (Mintardjo et al., 1985).

a. Tekstur Tanah
Tekstur tanah mempunyai peran yang sangat penting dalam penentuan apakah tanah memenuhi syarat untuk pertambakan. Semakin kompak tekstur tanah semakin baik tanah tersebut untuk dijadikan tambak (Mintardjo et .al,1985). Tanah terdiri dari mineral dan bahan organik dari berbagai ukuran. Mineraltersebut terdapat dalam partikel tanah yang berupa tanah lait (clay), lumpur (silt) dan pasir (land), sedangkan bahan organik terdapat sebagai bahan dalam berbagai tahap penguraian. Tekstur tanah sangat ditentukan oleh banyaknya komposisi pasir, lumpur dan liat. Menurut Potter (1977) dalam Mintardjo (1985) tanah yang sangat baikuntuk tambak adalah tanah yang mempunyai tekstur lempung berliat (clay loam), liat berpasir (sandy loam), liat berlumpur (silty clay) dan liat (clay). Untuk budidaya ikan kerapu di tambak tekstur tanah yang baik adalah liat berpasir  sampai lempung liat berlumpur (SNI, 2003) dan (Supratno dan Kasnadi, 2003).
b. PH Tanah
Potter (1977) dalam Mintardjo et al. (1985) golongkan tingkat keasaman tanah menjadi 3 kelompok, yaitu : a ) pH tanah di bawah 4,5 (tanah bersifat sangat asam), b) pH tanah antara 6,6 – 7,3 (tanah bersifat netral) , c) pH tanah antara 7,9 – 8,4 ( tanah bersifat agak basa) Menurut Supardi (1980) pada tambak yang mempunyai pH tanah rendah akan menghasilkan pH air yang rendah pula, karena terjadi efek pencucian, baik pada dasar maupun pematang tambak. Tanah yang mengandung pirit jika diairi, maka pirit akan teroksidasi membentuk asam sulfat yang dapat menurunkan air secara tiba-tiba. Mintardjo et al. (1985) menjelaskan bahwa pH tanah adalah sifat keasaman dan kebasaan tanah atau biasa juga disebut reaksi tanah. Tanah yang baik untuk  dijadikan lahan tambak ikan mempunyai pH sekitar 6,5 – 8,5. Adapun pH tanah yang normal untuk ikan budidaya kerapu di tambak adalah 7,0 – 8,5 (Supratno dan Kasnadi, 2003), sedangkan pH yang terbaik adalah berkisar antara 7,5 – 8,3.
c. Bahan Organik (BO) Tanah
Kandungan bahan organik dapat mempengaruhi kesuburan tambak, tetapi bila jumlahnya berlebihan dapat membahayakan kehidupan dan populasi ikan yang dipelihara. Mintardjo et .al (1985), telah memberikan angka-angka yang dapat digunakan untuk menentukan secara kuantitatif kandungan bahan organik di dalam tanah, yaitu kandungan bahan organik kurang dari 1,5 % tingkat kesuburannya rendah, kandungan bahan organik 1,6-3,5 % tingkat kesuburannya
19 sedang, dan kandungan bahan organik lebih dari 3,6 % tingkat kesuburannya tinggi. Menurut Supratno dan Kasnadi (2003), bahwa kandugan bahan organik tanah 5-10 % masih memungkinkan untuk budidaya ikan kerapu di tambak
1. Kualitas Air
Air sebagai tempat atau media hidup ikan kerapu yang dipelihara harus memenuhi persyaratan secara kualitas dan kuantitas, sehingga ikan dapat hidup  dan berkembang dengan baik. Sedangkan SNI 01-6487-2002 (2002) parameter Ikan kerapu di tambak yang harus diperhatikan adalah salinitas, suhu, pH, ketinggian air, kecerahan, oksigen terlarut, pH, amonia, nitrit, nitrat, phosfat, bahan organik dan parameter biologis (jenis plankton).
a. Salinitas
Salinitas merupakan suatu ukuran konsentrasi ion-ion yang terlarut dalam air yang diekspresikan dalam gram per liter (g/L) atau part per thusand (ppt). Anggoro (1993) menyatakan bahwa hubungan antara salinitas dan pertumbuhan ikan /hewan akuatik sangat erat kaitannya dengan tekanan osmotik air. Semakin tinggi salinitas perairan, maka semakin tinggi pula tekanan osmotiknya. Untuk menghindari pengaruh tekanan osmotik, perubahan salinitas seyogyanya dilakukan secara bertahap, agar hewan akuatik /ikan mampu untuk menyesuaikan diri dengan lingkunganya. Sunyoto (1994) menyatakan bahwa ikan kerapu menyenangi air laut berkadar garam 33 – 35 ppt dan 25 – 30 ppt. Namun menurut Sunyoto (1994) maupun Supratno dan Kasnadi (2003) dari hasil 20 penelitian membuktikan bahwa pada salinitas 5,15, 25 dan 35 ppt masih mampu memberikan respon toleransi positif terhadap pertumbuhan kerapu bebek.
b. Suhu
Suhu merupakan parameter lingkungan yang sangat besar pengaruhnya pada hewan akuatik. Menurut Soetomo (1990), suhu air sangat berpengaruh terhadap sifat fisik, kimia dan biologi tambak, yang akibatnya mempengaruhi fisiologis kehidupan hewan akuatik atau hewan air.
Secara umum laju pertumbuhan ikan akan meningkat jika sejalan dengan kenaikan suhu pada batas tertentu. Jika kenaikan suhu melebihi batas akan menyebabkan aktivitas metabolisme organisme air/hewan akuatik meningkat, hal ini akan menyebabkan berkurangnya gas-gas terlarut di dalam air yang penting untuk kehidupan ikan atau hewan akuatik lainnya. Walaupun ikan dapat menyesuaikan diri dengan kenaikan suhu, akan tetapi kenaikan suhu melibihi batas toleransi ekstrim (35 °C) waktu yang lama maka akan menimbulkan stress atau kematian ikan. Suhu untuk budidaya ikan kerapu di tambak adalah berkisar antara 28 –32 °C (Supratno dan Kasnadi, 2003).
c. Kecerahan Air
Kecerahan air merupakan ukuran penetrasi cahaya di dalam air. Hal tersebut disebabkan oleh bahan-bahan halus yang melayang dalam air, baik berupa bahan organik seperti plankton, jasad renik, detritus, maupun bahan organik lain seperti lumpur, pasir dan partikel-partikel terlarut yang tersuspensi seperti tanah(Mintardjo et al,1985). Kekeruhan yang disebabkan oleh partkel lumpur dan pasir dapat menutupi insang ikan kerapu, sehingga akan menghambat pernafasan. Sedangkan kekeruhan yang disebabkan oleh blooming plankton juga bisa menimbulkan pengaruh langsung yang merugikan, seperti jenis plankton yang dapat mengeluarkan racun seperti Microcytis sp. Kecerahan pada tambak kerapu yang diinginkan adalah berkisar 40-50 cm (Supratno dan Kasnadi, 2003).
d. Derajat Keasaman (pH)
pH air tambak sangat dipengaruhi tanahnya, sehingga tambak-tambak baru yang tanahnya asam maka pH airnyapun rendah. Ikan cukup sensitif terhadap perubahan pH, sehingga pada nilai tertentu (pH 4 dan 11) menurut Swigle (1942) dalam Mintardjo et al. (1985), merupan titik mati bagi ikan. Kisaran normal untuk kehidupan ikan kerapu berkisar antara 7,7 – 8,5. (Supratno dan Kasnadi, 2003). Nilai pH air dapat menurun karena proses repirasi dan pembusukan zat-zat organik.
e. Oksigen Terlarut (Disolved Oxygen)
Kandungan oksigen terlarut (DO) dalam suatu perairan merupakan  parameter pengubah kualitas air yang paling kritis dalam budidaya ikan, karena dapat mempengaruhi kelangsungan hidup   ikan yang dipelihara. Oksigen yang terlarut di dalam perairan sangat dibutuhkan untuk proses respirasi, baik oleh tanaman air, ikan, maupun organisme lain yang hidup di dalam air. Sedangkan kebutuhan oksigen terlaut untuk ikan kerapu di tambak yang baik adalah di atas 3,5 ppm (Supratno dan Kasnadi, 2003).

f. Amonia (NH3)
Amonia (NH3) yang terkandung dalam suatu perairan merupakan salah satu hasil dari proses penguraian bahan organik. Amonia ini berada dalam dua bentuk yaitu amonia tak berion (NH3) dan amonia berion (NH4). Amonia tak berion bersifat racun sedangkan amonia berion tidak beracun. Menurut Boyd (1982), tingkat peracunan amonia berion berbeda-beda untuk tiap spesies, tetapi pada kadar 0,6 ppm dapat membahayakan organisme tersebut. Amonia biasanya timbul akibat kotoran organisme dan aktivitas jasad renik dalam proses dekomposisi bahan organik yang kaya akan nitrogen. Tingginya kadar amonia biasanya diikuti naiknya kadar nitrit. Amonia merupakan hasil katalisator protein yang diekspresikan oleh organisme dan merupakan salah satu dari penguraian zat organik oleh bakteri. Amonia tingkat keseimbangannya sangat dipengaruhi oleh pH air, suhu , salinitas dan kadar Ca. Kadar amonia akan meningkat pada pH dan suhu tinggi serta kadar garam dan kesadahan rendah. Kadar amonia tinggi dalam air secara langsung  dapat mematikan organisme perairan yakni melalui pengaruhnya terhadap  ermeabilitas sel, mengurangi konsentrasi ion dalam tubuh, meningkatkan konsumsi oksigen dalam jaringan , merusak insang dan mengurangi kemampuan darah mengangkut oksigen % ( Boyd, 1981). Amonia yang baik untuk budidaya ikan kerapu di tambak adalah kurang dari 0,01 ppm (Supratno dan Kasnadi, 2003).
g. Nitrit (NO2)
Boyd (1981) menjelaskan bahwa nitrit hasil antara dari oksidasi amonia dalam proses nitrifikasi oleh bakteri autotropik nitrosomonas, yang menggunakan amonia sebagai sumber energi. Toksisitas nitrit terhadap ikan atau dapat dikatakan bahwa nitrit adalah hasil reaksi oksidasi amonia oleh bakteri nitrosomonas terutama dalam transpor oksigen dan kerusakan jaringan. Nitrit dalam darah mengoksidasi haemoglobin menjadi methemoglobin yang tidak mampu mengikat darah (Boyd, 1981; Maguire dan Allan, 1990). Sehingga tingginya kadar nitrit menjadi akibat lambatnya perubahan dari nitrat ke bakteri nitrobakter (Boyd,1982).
h. Nitrat (NO3)
Berbeda dengan amonia maupun nitrit, nitrat jarang sekali menjadi masalah dalam budidaya hewan akuatik baik di tawar, payau maupun laut. Efek nitrat pada  hewan akuatik hampir sama dengan nitrit yaitu pada transportasi oksigen dan proses osmoregulasi. Kadar nitrat dalam air yang berbahaya bagi ikan maupun invertrebata berkisar antara 1.000 – 3.000 ppm. Oleh karena itu, keracunan nitrat pada hewan akuatik sangat jarang terjadi (Hanggono, 2004). Namun untuk di tambak ikan kerapu sebaiknya kurang dari 10 ppm (Supratno dan Kasnadi, 2003).
i. BOD (Biological Oxygen Demand)
BOD adalah suatu analisis empiris yang secara umum merupakan prosesproses biologi dalam air. BOD sangat erat kaitannya dengan eutrofikasi, yaitu 24 suatu proses pengkayaan zat hara diperairan (terutama oleh fosfat dan nitrat) yang mengakibatkan habisnya gas oksigen terlarut. Zat-zat pengikat oksigen kebanyakan adalah zat organik. Zat kimia banyak dimanfaatkan sebagai hara atau sumber energi oleh mikroorganisme. Dalam proses metabolisme mikroba tersebut, zat kimia organik atau hara diuraikan menjadi senyawa yang lebih sederhana, dan pada akhirnya menjadi elemen organik atau hara anorganik dan gas. Reaksi biokomia ini dapat terjadi karena adanya oksigen terlarut. Oleh karena itu zat kimia organik tadi disebut sebagai zat –zat yang menimbulkan kebutuhan akan oksigen (BOD). Nilai BOD adalah dalam jumlah oksigen yang diperlukan oleh bakteri /mikroorganisme untuk menguraikan hampir semua zat organik terlarut dalam air (Boyd, 1981). Bahwa tinggi nilainya BOD menunjukkan indikasi kurang mampunya perairan untuk memenuhi keperluan oksigen bagi organisme perairan secara cukup. Batas toleransi BOD (5 hari) untuk budidaya ikan kerapu di tambak adalah kurang dari 3 ppm (Supratno dan Kasnadi , 2003) .
1. Plankton
Dalam budidaya ikan kerapu di tambak plankton tidak berperan secara langsung. Namun secara tidak langsung keberdaan plankton dapat membantu sebagai stabilisator pada media tambak, yaitu kecerahan air. Kecerahan yang normal akan membantu ikan kerapu secara tidak langsung terkena cahaya matahari, sehingga akan lebih nyaman. Standarisasi Nasional Indonesia (2002) maupun Supratno dan Kasnadi (2003), bahwa kepadatan plankton yang ideal di 25 tambak kerapu adalah sekitar 10.000 – 12.000 sel/ml. Jenis plankton yang diharapkan di tambak seperti jenis fitoplankton yaitu Chlorella sp, Skeletonema sp, Dunalaella sp dan lain-lain (50 – 70 %). Beberapa jenis diatom (20 – 30 %). Untuk jenis Cyanobacteria (10 – 20 %). Sedangkan yang paling dihindari atau tidak diharapkan adalah beberapa jenis Dinoflagellata.
2. Pemanfaatan lahan Tambak Untuk Budidaya Ikan Kerapu
Pemanfaatan lahan tambak untuk budidaya ikan kerapu agar sesuai maka  perlu penentuan lokasi yang tepat guna keberhasilan. Kesalahan dalam pemilihan atau penentuan suatu lokasi dapat berdampak sangat fatal, sehingga banyak kerugian. Beberapa hal yang perlu di perahatikan diantaranya :


3. Aspek Ekologis
a. Iklim
Menurut Poernomo (1992), bahwa data curah hujan sangat dibutuhkan terutama untuk menentukan jumlah curah hujan, bulan basah, maupun bulan kering di daerah tersebut karena sangat berkaitan dengan persediaan sumber air tawar, air laut, penurunan salinitas perairan, tingginya permukaan air, atau musim tanam. Kawasan atau daerah yang baik untuk budidaya tambak adalah curah hujan kurang dari 2.000 mm per tahun. Secara umum Wilayah Kabupaten Jepara beriklim tropis dengan suhu ratarata 27,88 °C, suhu minimum adalah 21,78 °C dan suhu maksimum 32,66 °C. Sedangkan untuk Suhu rata-ratra di Kabupaten Jepara setiap bulan berkisar antara 26 21,55– 32,71 °C. Tipe iklim di Kabupaten Jepara meliputi tipe C dan D (tipe iklim berdasarkan Scmidt dan Ferguson). Bedasarkan sumber data dari BAPPEDA Jepara ( 2002), banyaknya curah hujan di Kabupaten Jepara yaitu : Kecamatan Keling 3.044 mm/tahun (tinggi), Kecamatan Mlonggo 2.312 mm/tahun (sedang), Kecamatan Jepara 2.298 mm/tahun (sedang), Kecamatan Tahunan 2.349 mm/tahun (sedang) dan Kecamatan Kedung 2.554 mm/tahun (Tinggi).
b. Sumber Air
Air merupakan kebutuhan mutlak bagi ikan, sebab seluruh hidupnya berada dalam air. Namun demikian, tidak semua air dapat digunakan untuk memelihara ikan. Sumber air yang digunakan untuk mengairi tambak ikan kerapu harus memenuhi syarat, baik kualitas maupun kuantitasnya, dan tersedia sepanjang tahun. Lahan tambak sebaiknya dibangun di dekat muara sungai atau di dekat jaringan irigasi atau di dekat sumber air tawar lainnya yang mampu mensuplai air sepanjang   tahun, terutama di musim kemarau. Lahan pertambakan sebaiknya juga dekat dengan sumber air asin (laut). Sehingga tambak akan mempunyai sumber air yang dapat menjamin pasok air payau yang diperlukan sepanjang tahun (Poernomo, 1992) Ada beberapa parameter kualitas air perlu diperhatikan agar sesuai dengan kebutuhan budidaya ikan kerapu di tambak, yaitu : bersih, memenuhi derajad27 kemasaman, memenuhi produktivitas primer (kesuburan air), tingkat sedimentasi rendah, kelarutan oksigen tinggi, suhu, salinitas, kondisi pasang surut sumber air. Kualitas air di dalam tambak dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor kimia, fisika dan biologi. Pada prinsipnya jika suatu perairan dapat dihuni dengan baik oleh ikan kerapu, maka dapat dikatakan bahwa kualitas air di perairan tersebut cukup memenuhi syarat untuk mengairi tambak ikan kerapu (Supratno dan Kasnadi, 2003).

c. Pasang Surut
Salah satu faktor dominan yang mempengaruhi pasok air dan buang air dalam mengoperasikan tambak adalah sifat pasang surut. Agar kelancaran pengelolaan terjamin baik dengan biaya yang kecil, perlu diperhatikan kondisi pasang surut yang menguntungkan. Poernomo (1992) berpendapat bahwa lokasi yang fluktuasi pasangnya sedang (kisarannya maksimum antara 20 – 30 dm dan rataan amplitudonya antara 11 – 21 dm) adalah layak bagi pengelolaan pertambakan di kawasan intertidal.  Lokasi yang fluktuasi pasangnya besar (40 dm atau lebih) akan menimbulkan masalah, karena diperlukan pematang yang besar untuk melindungi tambak dari pasang tinggi dan sebaliknya menimbulkan kesukaran mempertahankan air di dalam tambak pada saat surut rendah. Kawasan yang amplitudo pasangnya sangat kecil (kurang 10 dm) akan dihadapkan pada masalah pengisian dan pembuangan air dari tambak karena tidak dapat dilaksanakan secara sempurna.
d. Topografi dan Elevasi
Lokasi pertambakan sebaiknya tidak pada tempat yang tanahnya bergelombang atau curam, sebab akan memerlukan banyak biaya untuk penggalian dan perataan tanah. Penggalian tanah yang banyak dan terlalu dalam akan menyebabkan lapisan permukaan yang subur terbuang. Daerah dekat sungai dan pantai pada umumnya merupakan tempat yang baik untuk petambakan (Poernomo, 1992). Menurut Poernomo (1992), lokasi pertambakan sebaiknya juga dipilih di tempat yang mempunyai elevasi tertentu agar memudahkan pengelolaan air, sehingga tambak cukup mendapatkan air pada saat terjadi pasang harian dan dapat dikeringkan pada saat surut harian. Lahan yang hanya dapat diairi pada saat terjadi pasang tertingi kurang baik untuk dijadikan tambak.

MAKALAH
Dasar - Dasar Ilmu Tanah
Faktor-Faktor Pembatas Budidaya Ikan Kerapu di Tambak

 

                                                                  DI BUAT OLEH
Muh talibin
Nim : 2011.21 009
Program studi budidaya perairan
Fakultas perikanan
Universitas Andi Djemma
Palopo 2012

0 komentar:

Poskan Komentar

Posting Lama ►
 

Pasang Iklan Anda Disini

Adsense Indonesia

Copyright © 2012. EXPA INDONESIA - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz